Wednesday, April 10, 2013

Aku Bahagia.

'Dan hati kami pun bertemu di penghujung gelisah yang terlalu lama singgah...'

Kurang lengkap rasanya jika aku hanya menuliskan satu kalimat tadi disini. Rasanya baru kemarin aku galau. Tak terasa sudah hampir satu tahun ini aku tidak merasakan kehadiran kebimbangan itu lagi. Syukurlah. Aku sudah move on. Ini kisahku. Semuanya terjadi dalam cerita cintaku.

Sudah lama aku tidak segembira ini. Lama sekali. Dan aku memutuskan untuk menggenggam kegembiraan ini. Aku masih ingat jelas ketika aku dihadapkan dengan pilihan-pilihan rumit dan sulit waktu itu. Sangat ingat. Rasanya sungguh tidak nyaman berada di zona yang bukan wilayah kekuasaan kita. Apalagi kekuasaan mengendalikan perasaan. Perasaanku saat itu ibarat tiang layar kapal yang hampir rubuh. Jika aku paksakan untuk tetap berlayar, aku beserta kapalku sudah pasti karam. Namun jika aku hanya berdiam di tengah lautan, ombak dan badai yang akan menelanku hingga tenggelam. Aku tidak punya pilihan saat itu. Yang aku bisa lakukan hanya memperbaiki tiang layar yang hampir rubuh itu. Aku harus menyelamatkan diri dan kapalku. Kekuatan perasaan yang membuatku bertahan.

Aku tidak pernah membayangkan akan ada di posisi sesulit itu. Aku hanya ingin hidup bahagia. Itu saja. Minimal perasaan. Aku tidak terbelenggu perasaan saja itu sudah membuatku bahagia. Tapi kenapa justru perasaan yang membuatku lantas merasa terbelenggu? Walaupun hanya sebentar, tetapi rasanya sangat menyiksa pikiran. Apalagi hati.

Aku mengumpulkan gairah hidup yang masih tersisa. Barangkali saja aku bisa kembali ceria dari sana. Tetapi kenyataannya tidak. Semakin aku memaksakan akan seperti apa hatiku, semakin ia tambah terluka. Parahnya aku sendiri yang melukainya. Aku bingung. Perasaan apa yang melingkupi seluruh ruang hatiku saat itu. Benci, iya. Marah, iya. Dendam pun iya. Aku benar-benar terbungkus amarah yang sudah tersimpul mati. Aku mulai mengingat-ngingat kembali siapa saja yang bisa membuatku tertawa. Dan aku menemukannya. Aku kembali pada masa laluku. Tetapi itu salah. Aku menemui orang yang salah. Dan aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik ketiak orang lain. Sekalipun itu membuatku aman. Perasaanku mulai sedikit membaik. Hingga akhirnya otakku bisa kupakai untuk berpikir jernih. 

Aku tidak bisa menggantungkan perasaanku seperti ini. Aku juga ingin perasaan yang utuh. Aku kembali jatuh. Tetapi kali ini aku bisa bangun sendiri tanpa bantuan orang lain. Aku mencoba memberikan ruang untuk diriku dan Tuhan. Hingga akhirnya aku bisa menata kembali perasaan-perasaan yang pernah hilang dariku. Aku merasa terlahir kembali. Aku merasakan aroma-aroma cinta semerbak di sekelilingku. Terlebih saat aku bertemu dia. Aku merasa seperti satu-satunya lebah di taman bunga yang luas. Aku merasakan kembali indahnya jatuh cinta. Ya, aku benar-benar jatuh cinta. 

Hati kami beradu ketika kami sama-sama kasmaran. Tepat. Hingga saat ini perasaan itu terkadang datang. Aku tak lagi takut kehilangan perasaan bahagia. Aku tak lagi getar menghadapi pilihan. Karena hati kami sudah dipertemukan dengan sangat indah. Saat ini aku bahagia. Sangat bahagia. Dan aku yakin kebahagiaan lain akan datang menghampiriku lagi. Terimakasih Tuhan untuk cara-Mu memberikan kebahagiaan padaku saat itu. Aku tahu, bahagia itu dari-Mu. Aku juga tahu tidaklah sulit bagimu memberikan kebahagiaan padaku. Dan kini aku pun tahu, bahagia itu adalah dia.

Monday, March 25, 2013

Bad rain, ever.


Hujan menghentikan langkahku seketika. Derasnya membasahi setiap ruang terbuka di sekitarku. Aku tidak bisa beranjak dari tempat dudukku. Hanya berharap hujan ini segera berlalu dan membiarkanku melanjutkan aktifitas makan siangku seperti biasanya. Ah, aku tidak bisa menikmati waktu makan siangku dengan dia. Kesal. Namun kejadian ini tidak lantas membuatku membenci hujan. Bagaimanapun cerita yang terjadi di balik hujan, aku selalu menikmatinya. Aku selalu suka hujan. 

***

Aku kecewa sekali ketika melihat butiran-butiran air langit yang banyak itu turun tepat di jam makan siang. Setidaknya banyak waktu yang terbuang percuma dan berakhir sia-sia. Aku tidak mendapatkan penyegaran sama sekali disini. Aku benci situasi seperti ini. Jari jemariku hanya bisa beradu dengan tombol-tombol keyboard komputer kerjaku. Tetapi aku tidak tahu harus mengetik apa. Ku putar musik dengan volume sedikit tinggi untuk mengalihkan pendengaranku dari bisingnya air hujan di luar sana. Aku mencoba mencari kesibukan lain yang bisa menggantikan quality lunch yang tertunda ini. Aku bahkan tidak merasakan lapar sama sekali. Aku memikirkan dia. Bagaimana makan siangnya? Bagaimana jika hujan yang deras ini tidak memberinya waktu untuk menyantap masakan yang sudah dia bayangkan dari kemarin? Pasti dia sangat kecewa, sama sepertiku.

***

Kekesalanku bertambah ketika jaringan internet dan sinyal di handphoneku mulai tidak stabil. Rasanya ingin aku lempar saja semua perangkat elektronik di hadapanku ini dengan batu. Tapi aku tahu itu tidak akan mengembalikan kekecawaanku terhadap hujan. Aku hanya butuh bertemu dia seperti biasanya. Hanya ingin bercengkrama dengannya seperti hari-hari sebelumnya. Melihat dia makan, lalu kembali ke tempat kerja. Itu saja. Tapi sayang hujan sudah merusak selera makanku. Dan hujan menjadi jarak diantara kami hari ini.

Now i know, that is Love.



Waktu bergulir semakin cepat menggantikan sisa-sisa bulan Maret yang tinggal satu minggu lagi. Rasanya kalau aku tuliskan semua cerita dan kejadian yang aku alami selama hampir sepuluh bulan dengan dia disini, mungkin tidak akan cukup. Semua cerita tentang kami sangat menarik bagiku. Kami memulai semuanya dengan sangat lembut dan beralur. Aku senang menceritakan kisah kami kepada semua orang. Sangat senang. Entah kenapa semakin kesini aku semakin ingin bersikap dewasa. Mungkin karena perasaan cintaku yang sangat luar biasa besar yang membuat perubahan besar dalam hidupku ini. Aku akui memang tidak mudah untukku mengkonversi ego menjadi sebuah kesabaran dan kedewasaan. Tetapi itu terjadi padaku belakangan ini. Mungkin ini yang disebut 'kekuatan cinta'. 

***

Jujur, aku bukan orang yang bisa mengkonversi ego dengan mudah. Biasanya aku rentan sekali dengan yang namanya emosi. Ya, aku seorang dengan emosi yang labil. Kadang aku bisa marah-marah gak jelas, kadang aku bisa bersikap diam dan dingin seperti es. Aku bukan orang yang kuat menahan diri dari rasa sabar. Aku lebih cenderung emosional dan meletup-letup. Aku bahkan tidak peduli siapa yang aku hadapi jika sudah seperti itu. Yang aku tahu, aku merasa puas jika sudah melampiaskan emosiku. But it doesn't take long. However, i'm just an ordinary woman. Sometimes i cry, sometimes i become an angry. Tapi sekarang, aku bisa lebih mengendalikan self orientation yang hidup dalam diriku ini. Thanks God. Dan semua itu aku lakukan semata-mata karena rasa cintaku lebih besar dari ego dan gengsiku. Aku menyadari sepenuhnya bahwa aku sangat mencintai dia lengkap dengan semua kekurangan dan kelemahannya. Semua bagian yang ada pada dirinya menjadi bagian yang tak terpisahkan untuk aku cintai. Kecuali masa lalunya. Aku membiarkan semua kisah yang dia buat di masa lalunya menjadi milik dia pribadi. Aku tidak menginginkan masa lalunya. Tidak sama sekali. Aku mencintai dia seperti aku mencintai diriku. Dan aku tahu betul kalau dia pun begitu.

***

Ditengah perjalanan cintaku yang kadang disinggahi konflik, aku selalu membayangkan bagaimana jika bukan dia yang ada denganku saat ini. Akan seperti apa kisah cintaku nanti? Kadang, aku merasa Tuhan begitu baik padaku. Di sela-sela kegamanganku, Dia sudah mengirimkan cinta-Nya melalui seseorang yang tepat. Seseorang yang penuh cinta seperti dia. Mungkin hanya aku dan Tuhan yang tahu bagaimana perasaanku memiliki dia. When God sends me love, i know that He answers my prayers.  And praise God, the answer is you. 

***

Aku pernah membayangkan betapa bahagianya jika aku bisa memeluk Tuhan. Dan lagi-lagi Tuhan menjawabnya lewat dia. Tuhan mengirimkan dia untuk bisa aku peluk, untuk bisa aku dekap. Tuhan juga menyelipkan kekuatan cinta diantara aku dan dia. Kekuatan yang menjadikan sesuatu yang mustahil menjadi nyata. Kekuatan yang merubah marah menjadi dewasa. Dan kekuatan yang menyatukan perbedaan kami menjadi tampak sama. Kekuatan ini yang lantas membuatku semakin mencintainya. Sangat mencintainya. Dan Tuhan tahu itu.



No one can deny that God's love is the most beautiful love in life. And i have one. It is you. You are the one of God's love that i have. I love you, Ponty. I love you more than i thought.

Sincerely,

Beautiful love.


Monday, March 18, 2013

Lelah


Sakit yang kurasakan di bagian kepalaku semakin hebat saja. Aku tidak tahu apa yang ada di belakang kesakitan ini. Semoga hanya masuk angin biasa. Sudah dua minggu ini kondisi badanku sedang tidak stabil. Kadang panas, kadang dingin. Kadang sakit kepala, kadang sakit tenggorokan. Begitu dan begitu terus. Aku capek dengan semua rutinitas ini. Bahkan terlalu capek untuk selalu merasakan sakitnya disalahkan keadaan. Aku hanya seorang karyawan biasa yang sedang belajar mengenai sebuah proses menuju kesuksesan. Aku juga punya banyak mimpi yang ingin aku wujudkan secepatnya.Tapi semua itu butuh waktu. Mungkin sebentar, mungkin juga akan sangat lama. Aku tidak pernah berhenti memikirkan hal apa yang akan aku lakukan jika sudah tidak bekerja nanti. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa suatu hari nanti aku bisa mewujudkan mimpi besarku itu. Namun aku hanya manusia biasa yang selalu berusaha menang dari keadaan. Aku tahu, ada seseorang yang selalu ingin waktuku untuknya. Tetapi waktuku sama seperti orang lain. Sama seperti dirinya. Aku berusaha adil untuk membagi waktuku yang kadang harus tersita dengan tanggung jawabku yang lain. Aku butuh dia, tapi aku berusaha untuk tidak egois. Ada waktu ketika dia harus denganku, ada waktunya juga ketika dia harus dengan kewajibannya yang lain. Aku mengerti. Tetapi kadang keinginan untuk dimengerti seperti itu, tidak aku dapatkan darinya. Mungkin memang tugasku yang harus selalu mengerti keadaan-keadaan terjepit seperti itu. Sama halnya ketika dia pulang terlambat, apa aku marah? Tidak. Sekalipun itu tidak ada sangkut pautnya dengan tanggung jawab dia, aku masih bisa memakluminya. Karena aku tahu, itu bukan salah dia. Juga bukan salahku. Yang salah hanyalah keadaan. Dan aku tidak mungkin menyalahkan keadaan yang sudah jelas - jelas terjadi.

***

Mungkin sudah sangat sering untuk kami memperdebatkan masalah ini. Dan sudah banyak pula air mata yang aku habiskan untuk menyelesaikannya. Meskipun kenyatannya tidak pernah selesai. Dan selama aku masih bekerja disini, masalah itu tidak akan menyentuh titik temu. Aku tidak diam. Aku selalu berusaha mencari celah untuk keluar dari sini. Tapi setidaknya, biarkan aku merasakan hasil dari jerih payahku selama satu tahun lebih di perusahaan ini. Setidaknya sampai aku keluar nanti. Aku hanya butuh waktu. Itu saja. Aku bukan orang yang terlena oleh materi. Ada beberapa alasanku bertahan di perusahaan yang sudah tidak sehat ini. Dan alasan - alasan itu mungkin saja bisa berguna untukku ketika aku sudah tak lagi disini. Aku bukan seorang profesional yang sudah mahir bekerja. Aku hanya seorang mahasiswa biasa yang baru merasakan panasnya dunia kerja. Paling tidak, disini aku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru yang bisa aku jadikan pijakan untuk mimpi - mimpiku. Juga mimpinya. Itu yang sulit dia mengerti disini. Wajar kalau dia selalu berpikiran negatif tentang pekerjaanku. Semoga dia hanya berpikiran negatif pada pekerjaanku. Bukan padaku. Aku tahu, pekerjaanku banyak menyita waktuku dengannya. Tetapi itu tidak lantas mengharuskanku menjadi korban terus menerus. Aku bekerja. Dia pun sama. Tetapi cara pandang kami yang berbeda. Dan aku tidak tahu harus bagaimana menyatukannya.

***

Aku lelah. Ya, aku sangat lelah. Namun aku yakin akan ada waktunya dimana semua lelah ini terbayar lunas. Aku tidak ingin lelah ini sia - sia. Semua yang aku rasakan sekarang, kelak harus membawaku ke tempat yang lebih nyaman. Aku percaya itu. Aku sedang memperjuangkan apa yang ingin aku wujudkan. Hanya waktu yang bisa menunjukkan semuanya. Dan tidak ada seorangpun yang bisa mengatur waktu dan keadaan mereka sendiri. Begitupun aku. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Hingga lelah berganti jengah.

Thursday, March 14, 2013

And I am still writing.


Aku tidak suka baca, tapi aku suka nulis. Aku juga gak bisa nulis cerpen atau puisi. Tapi aku suka sama keduanya. Dan hanya sebatas suka. Entah sejak kapan aku mulai menyukai tulisan-tulisan dalam bentuk cerita atau puisi. Belajar dari beberapa karya penulis hebat, aku melihat ada peluang disitu. Ya, peluangku untuk menorehkan kata per kata menjadi sebuah tulisan yang enak dibaca. Awalnya aku ragu dan bingung harus menulis apa. Mula - mula aku iseng  nulis cerpen. Satu, dua, tiga, empat tak terasa tulisanku sudah sampai halaman seratus. Waw! Amazing. Aku gak ngerti apa yang sudah aku tulis itu. Ku baca ulang tulisanku dari awal sampai akhir. Agak aneh memang. Banyak grammar dan diksi yang salah. Maklum, bukan penulis *excuse*. Kesukaanku terhadap menulis semakin kesini semakin kuat. Selesai dengan satu cerpen yang tak jelas ending-nya itu, aku mencoba menulis cerpen lain yang benar - benar pendek menyerupai cerpen. Dan untungnya cerpen keduaku ini sedikit jelas. Paling tidak, aku tidak melibatkan banyak tokoh seperti dalam cerpen satu. Sebenarnya obsesi awalku jadi sutradara jadi wajar kalau aku menggunakan banyak tokoh dalam cerpen pertamaku. Hehe. Dari cerpen keduaku, aku belajar sedikit demi sedikit pemilihan kata, penggunaan tanda baca dan juga gaya bahasa. Setidaknya aku bisa menikmati tulisanku itu. Walaupun masih belum mendekati sempurna. Yaa, namanya juga usaha. Cerpen keduaku sekarang sudah mengisi tampilan blog pabrik huruf judulnya 'Bubur Cinta Dara'. Yeaay! Akhirnya cerpenku ada yang baca. Padahal yang baca hanya aku dan pacarku aja *nangis*. Tapi gak apa-apa yang penting aku pe-de showing off  cerpen pertamaku itu *jingkrak-jingkrak*. Siapa tahu ada penerbit yang mau nerbitin karyaku. Hehe. Disana juga ada beberapa cerpenku yang lain.

***

Well, bicara tentang tulis menulis pasti gak akan lepas dari 'gaya menulis'. Setiap penulis pasti memiliki gaya menulis yang berbeda - beda. Sebagai penulis amatir, sebaiknya kita mencari referensi tentang gaya menulis dari berbagai sumber. Kita bisa melihat tulisan penulis yang kita sukai atau tulisan siapa saja yang bisa memberikan kita temuan tentang gaya apa yang sebaiknya kita pakai. Aku sendiri memakai gaya bebas. Hehe. Aku senang mencampur adukkan kata menjadi satu. Kadang formal, kadang prokem. Namanya juga anak muda. Jadi bebas - bebas aja mau pake gaya apa. Haha. Aku juga banyak belajar dari pacarku. Bagiku, sebuah keuntungan besar karena aku memiliki pacar yang jago nulis kayak dia. Terlepas dari dia seorang anak sastra, dia juga punya passion dan gaya menulis yang cukup kuat. Dia selalu mengajariku banyak hal dalam menulis. Darinya, aku jadi tahu bagaimana memilih kata-kata, menggunakan tanda baca bahkan menentukan judul cerita. Seru bukan punya pacar yang punya kesukaan pada bidang yang sama? Apalagi pacarnya lebih jago dari kita. Kadang, aku suka bertukar pikiran dengan dia. Sering malah. Aku selalu berkonsultasi sama dia sebelum menulis sesuatu. Kadang juga aku meminta penilaian dia mengenai tulisanku. Dan tak jarang dia memujiku. Syukurlah, berarti tulisanku layak untuk dibaca. Hehe. Aku sering menulis sesuatu untuk dia. Kadang puisi, kadang curahan hati. Semakin hari aku semakin senang menulis. Aku bermimpi bisa membuat sebuah buku dimana didalamnya aku dan dia yang menjadi tokoh utama. Aku juga berkhayal suatu hari nanti akan ada sebuah buku yang menceritakan perjalanan cinta kami. Semoga saja. Setiap mimpi pasti diwujudkan. Begitupun mimpiku. Aku harus mewujudkannya. Supaya kelak, anak cucuku bisa membaca karya amatirku. Aku akan tetap menulis selama aku mampu. Dan aku tidak akan pernah berhenti menulis tentang dia. Tentang cinta kami. Tentang kehidupan baru kami nanti. Tentang anak - anak kami. Tentang segalanya. My every single word is all about you.